Dear Prime Minister Najib Tun Razak
I write to you as a deeply concerned and saddened citizen of Malaysia . For most of the 45 years of my life, I have been proud to be Malaysian. Recently, I have become heartbroken to be Malaysian.
I am profoundly grateful to write this with the support of both my local communities in Sabah, Malaysian Borneo and California , U.S.A. , and a larger world community. That said, I take full ownership of and sole responsibility for the views articulated in this letter; I express them from my stand as a mother, an earth citizen and a leader.
I founded and lead a public charity and non profit organization both in Malaysia and in the U.S. , to bridge between worlds and build partnerships for ecological conservation. I have been at the front lines of the founding and mobilization of Green SURF (Sabah Unite to RePower the Future), the civil society movement opposing the construction of the 300 megawatt coal-fired power plant in Lahad Datu, Sabah, on the edge of the Coral Triangle, one of three of the world's most bio-diverse ecosystems. You know. You signed the 6-nation declaration between Malaysia , Indonesia , Philippines , Papua New Guinea , East Timor and Solomon Islands to collectively protect this 1.6 billion acres of ocean. You also know of course of your pledge at Copenhagen to reduce carbon emission intensity by up to 40% by 2020. You likely also know that the plant will displace fishing communities who have been there for a long time - irreparably contaminating their livelihoods forever. And if you listened, you would also know that they do not want the "development" that your government is imposing on them.
One of the priorities of Green SURF was to study clean energy alternatives to the coal-plant, and propose them to the government. We collectively invested tremendous time and resources to identify and commission the expertise of Professor Daniel Kammen at Renewable and Appropriate Energy Laboratory of University of California , Berkeley to conduct the Clean Energy Options for Sabah report. We had no notion of the outcome of the study, and results showed that Sabah is in an exceptional position to shift towards clean energy due to the availability of natural resources. We are in fact in an opportune position to lead the nation and the region in clean energy - the kind of leadership the world so urgently needs now. I wonder if you know that Sabah is the last coal power-free frontier of Borneo . FYI, the 5 core NGOs in Green SURF are amongst the largest, oldest and most recognized conservation groups in Sabah and Malaysia - collectively responsible for most of the conservation work in the nation, with partnerships that span the world.
We have tried every avenue available to communicate to you the results of our findings and to engage in discussion about the future of energy for Sabah . After months of unsuccessful attempts to meet with you, I can only conclude that you do not want to meet with us. This confuses and disturbs me. Your words in public are about listening to the rakyat (people) and hearing their views. A sizeable portion of the rakyat of Sabah has been doing everything within their power to be heard by you. To no avail. We have given you the benefit of the doubt that word is not getting to you, and yet we have met with those around you who promised they would convey our message to you. Many months, memos, reports, letters, faxes, emails and phone calls later, and we have not received a single response from you or any member of your administration. We also did our best at state level government, and have huge support from within the government but ultimately the message is that this is untouchable because "ini Najib mau" (Najib wants this).
Sir, my most consistent experience of your administration is stone walls, arrogance and insincerity. I am shocked by the behavior of the leadership of my nation. I find it patronizing, archaic, oppressive, blatantly and self-righteously elitist and top-down. I do not experience your administration as democratic, transparent, open, accountable or responsible. There is a deep incongruence between what you are projecting externally and what we have experienced internally. I can only surmise that you intentionally run your administration in this manner. Otherwise, it would mean that your leadership is incompetent and ineffective.
I am angry, and I am not willing to accept systemic disempowerment of our people. I am writing this open letter as a last resort. Sabahans are speaking up because we are deeply troubled and scared about the fate of our ecological and cultural legacy, and what we will be able to hand down to our future generations. Please show true leadership and listen. You and your administration have much to do to regain a modicum of respect amongst many Sabahans. If 1Malaysia is more than a PR campaign and is truly intended "to provide a free and open forum to discuss the things that matter deeply to us as a Nation", please walk your talk.
Yours sincerely, for the children,
Cynthia Clare Ong Gaik Suan
IC# 650423 12 5708
c.c. United Nations Secretary General Ban Ki-moon
United Nations General Assembly
Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights
Human Rights Watch
Amnesty International
The Parliament of Malaysia
Suhakam - Human Rights Commission of Malaysia
Professor Daniel Kammen, Renewable and Appropriate Energy Laboratory, University of California , Berkeley , U.S.A.
FaceBook, Twitter, blogs and websites
Local, national and international mainstream and alternative media
The Universal Declaration of Human Rights
(passed by United Nations General Assembly, 1948)
Article 21.
* (1) Everyone has the right to take part in the government of his country, directly or through freely chosen representatives.
* (2) Everyone has the right of equal access to public service in his country.
* (3) The will of the people shall be the basis of the authority of government; this will shall be expressed in periodic and genuine elections which shall be by universal and equal suffrage and shall be held by secret vote or by equivalent free voting procedures.
"Ayoh bersama membina ikatan kasih yang lebih utuh agar keluarga kita menjadi lebih dikasihi"
KO'TUHADAN KUMA TOMPINAI NGAWI
Blog ini adalah tempat perkongsian maklumat dan pendapat dari semua keluarga dekat atau jauh, kawan-kawan dan sesiapa sahaja. Penulis akan cuba menjadikan blog ini sebagai One Stop Information Center di mana segala sumber maklumat yang asas dan penting akan diletakkan dalam bentuk web link. Oleh yang demikian jika ada sesiapa yang ingin mencadangkan laman web atau blog yang berguna, bermanafaat dan bermaklumat silalah memberikan address web atau blog itu kepada penulis sama ada melalui email atau just taip pada ruangan chat pada blog ini. Cadangn dan juga kritikan membina juga amatlah dialu-alukan.
SELAMAT MELAYARI BLOG INI
SELAMAT MELAYARI BLOG INI
M.I.N.I B.U.L.E.T.I.N
Sila Daftarkan Diri Anda Disini Sebagai Kenangan dan Rujukan
My Redeemer Lives By Nicole Mullen
Tuesday, September 14, 2010
Friday, June 11, 2010
Thursday, June 3, 2010
Tuesday, October 13, 2009
Pokok Durian Ajaib!!!!!!
Kita mungkin biasa nampak buah durian di atas pokok, tapi pernah kah anda melihat durian berbuah dibawah pokok?....heheh... kalau tidak percayah... lihatlah sendiri....
























Macam tidak boleh dipercayai kan...tapi Percayalah..... sebenarnya durian ini dikenali sebagai Durian Kura-Kura atau nama saintifiknya Durio Testudinarium. Durian ini tumbuh secara liar di hutan borneo dan setakat ini tidak dipastikan sama ada durian ini ada ditanam secara komersial or persendirian. Menurut sumber rasanya tidaklah semanis seperti durian biasa tetapi baunya lebih kuat (menyengat) daripada durian biasa....
Friday, September 25, 2009
Padah Marah
Bila kita balik kerja 8 jam ke 12 jam tentu letih sampai rumah ingat
nak rest
tapi anak pulak buat hal....
ingatlah.....marah mcm mana sekalipun, jgnlah bertindak keterlaluan..............
Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar -
meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah semasa keluar bekerja.
Anak tunggal pasangan ini, perempuan berusia tiga setengah tahun..
Bersendirian di rumah dia kerap dibiarkan pembantunya yang sibuk
bekerja bermain diluar, tetapi pintu pagar tetap dikunci. Bermainlah dia
sama ada berbuai-buai di atas buaian yang dibeli bapanya, ataupun memetik
bunga raya, bunga kertas dan lain-lain di laman rumahnya.
Suatu hari dia terjumpa sebatang paku karat. Dia pun melakar simen
tempat letak kereta ayahnya tetapi kerana diperbuat daripada
marmar,lakaran tidak kelihatan. Dicubanya pada kereta baru ayahnya.
Ya... kerana kereta itu bewarna gelap, lakarannya jelas.Apa lagi kanak-kanak ini pun
melakarlah melahirkan kreativitinya. Hari itu bapa dan ibunya bermotosikal ke
tempat kerja kerana laluannya sesak sempena perayaan Thaipusam.
Penuh sebelah kanan dia beredar ke sebelah kiri kereta. Dilakarnya
gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan
sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu langsung tak disedari si pembantu rumah.
Pulang petang itu, terkejut badaklah pasangan itu melihat kereta
yang baru setahun dibeli dengan bayaran ansuran, berbatik-batik. Si
bapa yang belum pun masuk ke rumah terus menjerit, "Siapa punya kerja ni?" Pembantu
rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan tambah-tambah melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan ertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan "Tak tahu... !" "Duduk di rumah sepanjang hari tak tahu, apa kau buat?" herdik si isteri lagi. Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari bilik. Dengan penuh manja dia berkata "Ita buat ayahhh.... cantik kan !"
katanya menerkam ayahnya ingin bermanja seperti selalu. Si ayah yang hilang sabar merentap ranting kecil pokok bunga raya di depannya, terus dipukul bertalu-talu tapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa-apa terlolong-lolong kesakitan sekaligus ketakutan. Puas memukul tapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya. Si ibu cuma mendiamkan
diri, mungkin setuju dan berasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah melopong, tak tahu nak buat apa-apa. Si bapa cukup rakus memukul-mukul tangan kanan dan kemudian tangan kiri anaknya..
Selepas si bapa masuk ke rumah dituruti si ibu, pembantu rumah menggendong anak kecil itu, membawanya ke bilik. Dilihatnya tapak tangan dan belakang tangan si anak kecil calar balar.
Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiram air sambil dia menangis. Anak kecil itu pula terjerit-jerit menahan kepedihan sebaik calar-balar itu terkena air. Si pembantu rumah kemudian menidurkan anak kecil itu. Si bapa sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua-dua belah tangan si anak bengkak.. Pembantu rumah mengadu. "Sapukan minyak gamat tu!" balas tuannya, bapa si anak. Pulang dari kerja, dia tidak melayan anak kecil itu yang menghabiskan masa di bilik pembantu. Si bapa konon mahu mengajar anaknya.
Tiga hari berlalu, si ayah langsung tidak menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu tetapi setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. "Ita demam... " jawap pembantunya ringkas.
"Bagi minum panadol tu," balas si ibu.. Sebelum si ibu masuk bilik tidur dia menjenguk bilik pembantunya. Apabila dilihat anaknya Ita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup semula pintu. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahu tuannya bahawa suhu
badan Ita terlalu panas. "Petang nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 siap" kata majikannya
itu. Sampai waktunya si anak yang longlai dibawa ke klinik. Doktor mengarahnya ia dirujuk ke hospital kerana keadaannya serius. Setelah seminggu di wad pediatrik doktor memanggil bapa dan ibu kanak-kanak itu. "Tiada pilihan..." katanya yang mencadangkan agar kedua-dua tangan
kanak-kanak itu dipotong kerana gangren yang terjadi sudah terlalu teruk. "Ia sudah bernanah, demi nyawanya tangan perlu dipotong dari siku ke bawah" kata doktor. Si bapa dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu.
Terasa diri tunggang terbalik, tapi apalah dapat dikatakan. Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si bapa terketar-ketar menandatangani surat kebenaran pembedahan.
Keluar dari bilik pembedahan, selepas ubat bius yang dikenakan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga terpinga-pinga melihat kedua-dua tangannya berbalut putih. Direnung muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis.. Dalam seksaan menahan sakit, si anak yang keletah bersuara dalam
linangan air mata.. "Abah.. Mama... Ita tak buat lagi. Ita tak mau ayah pukul. Ita tak mau jahat. Ita sayang abah.. sayang mama." katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa.
"Ita juga sayang Kak Narti.." katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuatkan gadis dari Surabaya itu meraung seperti histeria. "Abah.. bagilah balik tangan Ita. Buat apa ambil... Ita janji tak buat lagi! Ita nak makan macam mana? Nak main macam mana? Ita janji tak conteng kereta lagi," katanya bertalu-talu. Bagaikan gugur jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi, tiada
manusia dapat menahannya.
jangan sedih........
so dah dapat pengajaran... kan ...
bila balik nanti tengok la anak-anak anda....
mana yang lebih berharga.........
Have A Wonderfulday...
nak rest
tapi anak pulak buat hal....
ingatlah.....marah mcm mana sekalipun, jgnlah bertindak keterlaluan..............
Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar -
meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah semasa keluar bekerja.
Anak tunggal pasangan ini, perempuan berusia tiga setengah tahun..
Bersendirian di rumah dia kerap dibiarkan pembantunya yang sibuk
bekerja bermain diluar, tetapi pintu pagar tetap dikunci. Bermainlah dia
sama ada berbuai-buai di atas buaian yang dibeli bapanya, ataupun memetik
bunga raya, bunga kertas dan lain-lain di laman rumahnya.
Suatu hari dia terjumpa sebatang paku karat. Dia pun melakar simen
tempat letak kereta ayahnya tetapi kerana diperbuat daripada
marmar,lakaran tidak kelihatan. Dicubanya pada kereta baru ayahnya.
Ya... kerana kereta itu bewarna gelap, lakarannya jelas.Apa lagi kanak-kanak ini pun
melakarlah melahirkan kreativitinya. Hari itu bapa dan ibunya bermotosikal ke
tempat kerja kerana laluannya sesak sempena perayaan Thaipusam.
Penuh sebelah kanan dia beredar ke sebelah kiri kereta. Dilakarnya
gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan
sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu langsung tak disedari si pembantu rumah.
Pulang petang itu, terkejut badaklah pasangan itu melihat kereta
yang baru setahun dibeli dengan bayaran ansuran, berbatik-batik. Si
bapa yang belum pun masuk ke rumah terus menjerit, "Siapa punya kerja ni?" Pembantu
rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan tambah-tambah melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan ertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan "Tak tahu... !" "Duduk di rumah sepanjang hari tak tahu, apa kau buat?" herdik si isteri lagi. Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari bilik. Dengan penuh manja dia berkata "Ita buat ayahhh.... cantik kan !"
katanya menerkam ayahnya ingin bermanja seperti selalu. Si ayah yang hilang sabar merentap ranting kecil pokok bunga raya di depannya, terus dipukul bertalu-talu tapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa-apa terlolong-lolong kesakitan sekaligus ketakutan. Puas memukul tapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya. Si ibu cuma mendiamkan
diri, mungkin setuju dan berasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah melopong, tak tahu nak buat apa-apa. Si bapa cukup rakus memukul-mukul tangan kanan dan kemudian tangan kiri anaknya..
Selepas si bapa masuk ke rumah dituruti si ibu, pembantu rumah menggendong anak kecil itu, membawanya ke bilik. Dilihatnya tapak tangan dan belakang tangan si anak kecil calar balar.
Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiram air sambil dia menangis. Anak kecil itu pula terjerit-jerit menahan kepedihan sebaik calar-balar itu terkena air. Si pembantu rumah kemudian menidurkan anak kecil itu. Si bapa sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua-dua belah tangan si anak bengkak.. Pembantu rumah mengadu. "Sapukan minyak gamat tu!" balas tuannya, bapa si anak. Pulang dari kerja, dia tidak melayan anak kecil itu yang menghabiskan masa di bilik pembantu. Si bapa konon mahu mengajar anaknya.
Tiga hari berlalu, si ayah langsung tidak menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu tetapi setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. "Ita demam... " jawap pembantunya ringkas.
"Bagi minum panadol tu," balas si ibu.. Sebelum si ibu masuk bilik tidur dia menjenguk bilik pembantunya. Apabila dilihat anaknya Ita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup semula pintu. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahu tuannya bahawa suhu
badan Ita terlalu panas. "Petang nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 siap" kata majikannya
itu. Sampai waktunya si anak yang longlai dibawa ke klinik. Doktor mengarahnya ia dirujuk ke hospital kerana keadaannya serius. Setelah seminggu di wad pediatrik doktor memanggil bapa dan ibu kanak-kanak itu. "Tiada pilihan..." katanya yang mencadangkan agar kedua-dua tangan
kanak-kanak itu dipotong kerana gangren yang terjadi sudah terlalu teruk. "Ia sudah bernanah, demi nyawanya tangan perlu dipotong dari siku ke bawah" kata doktor. Si bapa dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu.
Terasa diri tunggang terbalik, tapi apalah dapat dikatakan. Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si bapa terketar-ketar menandatangani surat kebenaran pembedahan.
Keluar dari bilik pembedahan, selepas ubat bius yang dikenakan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga terpinga-pinga melihat kedua-dua tangannya berbalut putih. Direnung muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis.. Dalam seksaan menahan sakit, si anak yang keletah bersuara dalam
linangan air mata.. "Abah.. Mama... Ita tak buat lagi. Ita tak mau ayah pukul. Ita tak mau jahat. Ita sayang abah.. sayang mama." katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa.
"Ita juga sayang Kak Narti.." katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuatkan gadis dari Surabaya itu meraung seperti histeria. "Abah.. bagilah balik tangan Ita. Buat apa ambil... Ita janji tak buat lagi! Ita nak makan macam mana? Nak main macam mana? Ita janji tak conteng kereta lagi," katanya bertalu-talu. Bagaikan gugur jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi, tiada
manusia dapat menahannya.
jangan sedih........
so dah dapat pengajaran... kan ...
bila balik nanti tengok la anak-anak anda....
mana yang lebih berharga.........
Have A Wonderfulday...
Friday, June 19, 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)
This What We Call a HERO...